Mengenai Saya

Foto saya
cuma pengen jadi wanita idamannya kamu

30 Apr 2012

imbas dari kenaikan BBM

Kata Pengantar
Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan berkah, anugrah dan karunia yang melimpah, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas berbentuk tulisan ini. Pada kesempatan ini saya akan membuat tulisan yg bertemakan “imbas kenaikan BBM” dan saya pun ingin mengucapkan terima kasih kepada artikel-artikel yang telah membantu saya dalam pembuatan tulisan ini.

Pembahasan

Dampak kenaikan bbm 
Naiknya harga bahan bakar minyak dinilai akan berdampak pada meningkatnya biaya pendidikan yang dikhawatirkan juga berpengaruh semakin tingginya angka putus sekolah.
Koordinator Front Mahasiswa Sumatera Utara (FROMSU),Donny Aditra di Medan, Kamis mengatakan, secara umum naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang rencananya mulai diberlakukan 1 April 2012, nantinya akan sangat berdampak pada dunia pendidikan.
“Biaya pendidikan nantinya juga akan mengalami kenaikan akibat naiknya harga kebutuhan belajar mengajar dan sarana lainnya.Kalau ini sampai terjadi, tentunya akan sangat berdampak pada semakin tingginya angka putus sekolah,” katanya.
Berbicara pada temu pers dengan sejumlah media menyikapi rencana kenaikan BBM, ia mengatakan, BBM merupakan salah satu kebutuhan krusial dalam upaya meningkatkan ekonomi dan aspek kehidupan rakyat lainnya disetiap negara.
Di Indonesia sendiri, selain untuk kebutuhan operasional industri besar, menengah mau pun kecil yang ada di Indonesia, BBM juga sangat dibutuhkan untuk hal lainnya seperti transportasi, kebutuhan rumah tangga dan lainnya.
Artinya bahwa hampir seluruh sektor dan aspek kehidupan rakyat memiliki kaitan erat dengan BBM mau pun energi lainnya.
Sehingga dengan naiknya harga BBM dapat dipastikan akan menyebabkan biaya produksi diberbagai sektor juga menjadi meningkat.
“Dengan kenyataan demikian, maka sudah pasti buruh, tani dan seluruh rakyat miskin di negeri ini harus menanggung beban atas kenaikan harga BBM itu,” katanya.
Dengan demikian, lanjutnya, maka tidak ada alasan ilmiah atau objektif bagi pemerintah untuk menaikkan harga BBM.
Alternatif yang diambil pemerintah sebagai solusi adalah jawaban yang justru semakin menunjukkan betapa pemerintah saat ini sama sekali kurang memiliki kehendak untuk memperbaiki apalagi menjamin kesejahteraan rakyatnya.
“Di sisi lain, dengan kebijakan akan menaikkan BBM tersebut juga semakin menunjukkan betapa tidak konsistennya pemerintah, yang pernah menjanjiaan tidak akan menaikkan BBM pada tahun 2012. Kami juga telah menggalang ribuan tanda tangan dari berbagai organisasi mahasiswa di Sumut sebagai bentuk penolakan atas rencana kenaikan BBM itu,” katanya.

Dampak kenaikn bbm bagi pra nelayan
Baru satu bulan gelombang tinggi dan cuaca buruk di lautan menghilang dan para nelayan kembali melaut. Melimpahnya hasil tangkapan, diharapkan mampu menebus masa paceklik sepanjang musim baratan. Namun, harapan hanya tinggal harapan. Gempuran ikan impor yang bahkan menguasai pasar tradisional di sentra kelautan, membuat harga hasil tangkapan nelayan jatuh. Keuntungan nelayan pun sangat minim. Baru usai balada ikan impor, kini datang lagi 'badai' yang lain. Yaitu naiknya harga bahan bakar minyak (BBM). "Pemerintah sangat tidak peduli dengan nasib nelayan," keluh nelayan tradisional Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Waskudi (38 tahun). Sebelum BBM naik, penghasilan Waskudi hanya Rp 500 ribu. Dipotong modal dan biaya melaut, keuntungannya Rp 200 ribu. Itu pun masih harus dibagi oleh empat teman yang melaut bersamanya. Nelayan lain, Haryono (45), mengatakan kenaikan harga BBM akan membuat modal melaut membengkak. Sementara, tak ada standardisasi harga ikan, apapun situasi, iklim, dan kondisi biaya modal. Maka, lengkap sudah rentetan kalimat bernada keluhan para nelayan. "Modal melaut tambah besar, harga jual ikan rendah, harga BBM naik, harga sembako juga pasti ikut naik. Nasib nelayan benar-benar merana,’’ kata Haryono.

Ketua Serikat nelayan Tradisional (SNT), Kajidin, mengaku geram dengan rencana Pemerintah menaikkan harga BBM. Tak hanya menambah biaya melaut dan menurunkan daya beli, kebijakan itu juga bakal menambah angka pengangguran. Nelayan tradisional, kata Kajidin, tak akan bisa melaut jika modal yang dibutuhkan semakin besar. Untuk nelayan berusia muda, masih ada kesempatan menjadi anak buah kapal pada kapal besar. Namun bagi nelayan yang sudah berumur, tak ada alternatif itu.

Saat ini, di Kabupaten Indramayu ada sekitar 2.700 nelayan tradisional. Rata-rata, mereka tidak berpendidikan formal. Keahlian selain melautpun tiada. "Paling bisanya jadi tukang becak,’’ ujar Kajidin. Imbas kenaikan harga BBM diperkirakan bakal menghantam 90 persen dari sekurangnya 120 ribu nelayan Jawa Barat. "Di Jabar mayoritas nelayan kecil," ujar Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Barat, Ahmad Hadadi. Bagi mereka, bila ongkos melaut melebihi harga jual tang kapan, maka pilihannya adalah tidak mengangkat sauh. Mayoritas nelayan di Jawa Barat rata-rata mengandalkan kapal kecil, yang melaut sejauhjauhnya empat mil.

Namun, Hadadi mengatakan harapan nelayan tidak semuanya padam. Nelayan yang tak bisa melaut lagi, bisa dialihkan ke budi daya ikan, termasuk tambak. Potensi tambak di Jawa Barat masih terbentang. Di Pantura saja, sebut dia, dari 75 ribu hektare tambak, baru digarap 40 persen. Harapannya, angka pengangguran pun tak benar-benar meledak setelah harga BBM naik. Setidaknya, kata Hadadi, setiap hektare tambak butuh te naga kerja dua sampai tiga orang

Daftar pustaka :
http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-barat-nasional/12/03/26